Ketika Dokter Jatuh Cinta

Seorang dokter jatuh cinta pada seorang yang menarik hatinya. Suatu hari, ia mengirimkan surat cintanya kepada pujaan hatinya itu. Berhari-hari setelah itu pujaan  hatinya baru membalas surat tersebut.

“Suratmu sudah saya terima. Mohon maaf agak terlambat membalasnya, karena saya harus ke apotek dulu agar bisa baca tulisan di suratmu.”

Kesan tulisan jelek dokter dalam resep telah mencengkeram benak sekian banyak orang. Sering pula, seseorang yang memiliki tulisan yang jelek dikatakan sebagai tulisan dokter. Tapi sadarkah anda jika tulisan jelek dalam resep dapat berpotensi membuat kesalahan dalam pengobatan ketika kemiripan nama dalam obat dapat menjadi sumber kesalahan yang fatal?


Bagaimana pendapat anda tentang tulisan dokter yang jelek?

3 Responses to “Ketika Dokter Jatuh Cinta”


  1. 1 71mm0 Mei 26th, 2009 at 8:43 pm

    benar sekali ;)
    Sewaktu Saya magang di RS, wuah, perlu adaptasi ekstra :)

    Yang sulit dimengerti jika obat tersebut terbilang baru atau obat paten, kalau obat generik mah udah sering liat hingga terbiasa.

    Bagaimanapun, yang tulisannya jelas dan bisa dibaca lebih baik dari pada tulisan bagus tapi sulit dibaca (seperti font type monocativa -bentuk “artistik”, namun sulit dibaca-) :D

  2. 2 M Wellyan Jun 28th, 2009 at 7:56 am

    Di zaman beradab dimana konsumen/pasien berhak tahu dan menentukan pengobatannya sendiri, maka metode-metode purbakala dalam mengkaburkan nama obat sehingga tidak terbaca pasien sudah selayaknya ditinggalkan.

  1. 1 Apotek Dag Dig Dug | Tidak Okelah Kalau Begitu Trackback on Jan 6th, 2010 at 5:29 pm

Leave a Reply