Suatu petang, seorang kawan menanyakan harga obat di apotek saya, mencari perbandingan harga. Berharap bisa mendapat alternatif paket tebusan resep yang lebih murah.
Memang dengan banyaknya (banget …) merek obat yang beredar di Indonesia, variasi biaya pengobatan bisa cukup besar dengan mengganti-ganti merek obat. Ini menjadi penting karena sekitar 40 % (bisa kurang lah) biaya kesehatan umumnya berasal dari obat. Namun rasanya belum menjadi pengetahuan umum bahwa biaya kesehatan sebenarnya bisa dikendalikan dengan menggunakan pendekatan farmakoekonomi. Jadi sebenarnya nebus obat pun bisa disesuaikan dengan kemampuan kantong, tinggal dibicarakan saja dengan apoteker di tempat menebus obat.
Waktu lebaran kemarin gusi saya bengkak dan sakit, karena terlalu banyak makan makanan yang keras (seperti kacang bawang dsb). Lalu saya ke apotek untuk cari anti inflamasi (natrium diklofenak) dan analgesik (asam mefenamat). Sengaja saya cari yang generik, tapi ternyata tidak tersedia di apotek tsb. Setelah dibanding-bandingkan, saya beli natrium diklofenak 25 bermerek yg harganya Rp 8500/ 10 tablet (1/3 dari yang paten), sedangkan analgesiknya saya beli obat murah yang berisi parasetamol dengan harga Rp 1000 untuk 6 kaplet. Total saya hanya keluar uang Rp 9500 (Kalau ada yang generik mungkin bisa lebih hemat lagi). Alhamdulillah setelah 2 hari mengonsumsi kedua obat tersebut gusi saya normal kembali dan rasa sakitnya juga hilang.Jadi memang betul kalau pendekatan farmakoekonomi sangat bermanfaat.
Kalau di apotek saya, asam mefenamat satu strip Rp 2100, parasetamol 1 strip Rp 1500, sebuah obat bermerek (isinya na diklofenak) 1 strip 2600. Dipilih-dipilih…
Sekarang nebus obat bisa lebih user friendly. Sepertinya atas dasar pertimbangan farmakoekonomi-lah pemerintah akhirnya mengeluarkan Permenkes awal 2010 ini yang salah satu isinya menjelaskan bahwa pasien juga berhak untuk menentukan jenis obat yang akan mereka tebus (generik maupun merek dagang lain).
So, sekarang, bagi para pasien, nebus obat bisa lebih semaumu…
Salam dari sejawat
Ya, pasien juga punya hak pilih.
Salam kenal juga.