Ketika Cinta Terlarang
Tuhan, berikan aku hidup satu kali lagi_Cinta Terlarang - The Virgin
Suatu hari seseorang bertanya pada saya tentang bagaimana dia baru saja mengkonsumsi sebuah obat sebanyak 9 pil (1 dimasukan ke dalam vagina dan 8 nya sudah diminum secara berkala 1,5 jam dari jam 23.00 sampai sore). Ia melakukannya karena ingin mengugurkan kandungan.
Menurutnya ia mendapatkan informasi dari apoteker yang memberi obat tersebut bahwa sudah banyak orang yang minum obat ini dan hasilnya bayi tersebut keluar.
Duhhh…
Sebagian besar orang mencintai kehidupan, seberapa pahitnya pun. Jarang orang dengan suka cita menyongsong kematian. Manusia mencintai kehidupan. Fitrahnya begitu. Namun mungkin berbeda ketika cinta terlarang. Cinta yang semestinya memberi kehidupan, malah merenggut kehidupan. Namun demikian, dunia tak selalu hitam putih atau abu-abu, selalu ada alasan yang mendasari sebuah pilihan.
Sedihnya, obat tersebut adalah salah satu fenomena obat yang digunakan secara off label atau peruntukannya tidak sesuai dengan petunjuk resmi. Efek sampingnya yang dapat mengugurkan kandungan malah diminati sebagai tujuan utama mengesampingkan penggunaan resminya sebagai obat maag. Obat tersebut memang sebaiknya tidak digunakan tanpa petunjuk dokter karena pemakaian yang salah bisa mengakibatkan hiperkontraksi (kejang yang berlebihan) pada rahim. Efeknya jaringan rahim bisa rapuh atau kram perut yang nyerinya bisa jauh melebihi haid biasa. Pada kasus yang parah, bahkan dapat menyebabkan rahim harus diangkat. Karena itu, berhatilah dalam menggunakan obat, konsultasikan dengan tenaga kesehatan.
Bertanya adalah Hak Pasien, Ada Pertanyaan?
Kasus Prita Mulyasari sedang menjadi isu hangat. Amat disayangkan jika ini menjadikan konsumen kesehatan menjadi semakin segan atau takut menggunakan haknya untuk bertanya. Padahal bertanya adalah hak pasien. Untuk obat bebas sekalipun, jika anda memperhatikan etiketnya, anda dapat menemukan istilah asing yang tak mudah dipahami awam. Tenaga kesehatan semestinya menjadi tempat bertanya dan berkonsultasi. Ini juga terkait model etiket obat kita yang masih belum membumi. Jadi jika anda memerlukan penjelasan mengenai terapi obat yang anda jalani, jangan ragu untuk bertanya.
Karena bertanya adalah hak anda, ada pertanyaan?
Mencari Apotek yang ‘Pasti Pas’
Mana yang lebih anda pilih di antara dua layanan dimana perbedaannya terletak pada layanan yang satu telah diakreditasi/disertifikasi atau apa pun istilahnya yang menunjukkan bahwa kualitas layanan tersebut telah memenuhi standar tertentu? Tentu yang telah terbukti memenuhi standar kualitas bukan? Bahkan jika pun mesti membayar sedikit lebih mahal, karena seperti kata Miss Universe, duit nggak bohong (yaaah paling sekali-sekali lah : p).
Lalu bagaimana cara mencari apotek yang pelayanannya telah memenuhi standar? Sebagai konsumen, cara paling mudah saat ini adalah menanyakan pertanyaan sederhana pada petugas yang sedang bertugas di apotek tersebut, “Apotekernya ada tidak?”. Apotek yang baik tentu dikelola oleh ahlinya, seseorang yang dididik dan dilatih secara khusus mengenai obat-obatan dan pengelolaannya. Apoteker sebagai pengelola apotek yang menunjukkan seberapa baik kualitas pelayanan apotek tersebut. Jika apotekernya tidak ada, tentu memunculkan sebuah pertanyaan, seperti apa pelayanan yang diberikan oleh yang bukan ahlinya?
Bagaimana menurut anda?
Ketika Dokter Jatuh Cinta
Seorang dokter jatuh cinta pada seorang yang menarik hatinya. Suatu hari, ia mengirimkan surat cintanya kepada pujaan hatinya itu. Berhari-hari setelah itu pujaan hatinya baru membalas surat tersebut.
“Suratmu sudah saya terima. Mohon maaf agak terlambat membalasnya, karena saya harus ke apotek dulu agar bisa baca tulisan di suratmu.”
Kesan tulisan jelek dokter dalam resep telah mencengkeram benak sekian banyak orang. Sering pula, seseorang yang memiliki tulisan yang jelek dikatakan sebagai tulisan dokter. Tapi sadarkah anda jika tulisan jelek dalam resep dapat berpotensi membuat kesalahan dalam pengobatan ketika kemiripan nama dalam obat dapat menjadi sumber kesalahan yang fatal?
Bagaimana pendapat anda tentang tulisan dokter yang jelek?
Jangan Mudah Minta Antibiotik
Fenomena bakteri yang kebal antibiotik telah mencapai taraf yang sangat mengkhawatirkan. Telah banyak jenis bakteri penyebab penyakit yang pada awalnya dapat diobati dengan antibiotik, kemudian mampu mengembangkan kekebalan. Hal ini biasanya dipicu penggunaan obat yang tidak rasional, seperti penggunaan antibiotik yang tidak tuntas ataupun penggunaan tanpa dasar klinis yang jelas. Padahal penggunaan antibiotik yang tidak semestinya selain dapat menimbulkan resistensi juga dapat mengancam nyawa pasien.
Selama ini seringkali sebagian pasien menganggap antibiotik merupakan obat paling mujarab. Antibiotik kerap digunakan untuk pelbagai penyakit ringan yang disebabkan oleh virus tanpa mengindahkan aturan penggunaannya. Padahal cukup dengan istirahat dan meningkatkan kekebalan tubuh dengan mengkonsumsi buah dan makanan yang memadai sebetulnya penyakit tersebut akan sembuh karena penyakit yang disebabkan virus biasanya merupakan self limiting disease yang dapat sembuh sendiri seiring waktu.
Terkadang dengan asumsi sendiri, pasien tidak mematuhi instruksi pemberian obat, dimana antibiotik yang diresepkan seharusnya diminum sampai habis tetapi ternyata dihentikan sebelum waktunya karena pasien merasa kondisi tubuhnya telah membaik.
Seringkali terjadi, penggunaan antibiotika yang tidak tuntas hanya memunculkan bakteri yang kebal terhadap antibiotik. Sebagai gambaran, bakteri TBC dapat menjadi kebal hanya dalam jangka waktu enam sampai delapan minggu jika obat seperti rifampisin atau pirazinamid digunakan secara sembarangan.
Yang lebih miris adalah pasien sering kali memaksa untuk diberi antibiotik, dan terkadang oknum tenaga kesehatan pun memberikan antibiotik pada yang kurang memerlukannya. karena bisa dibeli dengan mudah, sebagian masyarakat melakukan pengobatan sendiri dengan antibiotik tanpa berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.
Kebiasaan ini merugikan kita semua dan untuk itu sebaiknya segera diubah, gunakan obat sesuai aturan dan ikuti petunjuk tenaga kesehatan. Semoga sehat senantiasa.
The article has
2 responses