Dulu saya sempat menganjurkan agar pasien tak sungkan bertanya tentang obat. Tapi kemudian saya sadar bahwa satu obat dapat digunakan untuk penyakit yang berbeda. Jadi mungkin pertanyaan yang lebih tepat adalah bukan ‘ini obat apa sih’ tapi ‘mengapa’. Mengapa saya diberi obat ini?
Terkadang beberapa obat digunakan secara off label yakni efek sampingnya yang dimanfaatkan jadi terkadang tidak selalu tepat untuk bertanya ini obat apa tanpa mempelajari kondisi pasien yang diberi obat tersebut.
Jika anda membeli GG di dua tempat yang berbeda, anda akan mendapat dua benda yang berbeda. Di apotek, GG biasa dikaitkan dengan gliseril guaiakolat, suatu golongan obat batuk. Sementara di tempat lain, boleh jadi jika anda membeli GG, anda disodori sebungkus rokok, yang justru dapat memicu batuk.
Beberapa minggu terakhir sempat muncul wacana penghapusan jaminan kesehatan gakin bagi perokok. Agak-agak kontroversial memang, namun miris juga mengingat sebagian besar perokok adalah warga miskin. Usulan ini didukung oleh UGM.
Terlepas dari kontroversi tepatkah rencana pencabutan jaminan kesehatan bagi perokok. Perlu diketahui bahwa gejala berarti pada perokok biasanya baru terasa setelah 10 tahun saat mulai merokok.
Menjelang rencana kedatangan Obama ke Indonesia pada pertengahan bulan Maret ini, ada saja pihak-pihak yang memanfaatkan momen ini untuk meraup keuntungan tanpa memedulikan aturan.
Kasus ini juga sempat disinggung di Boingboing
Di beberapa kota di tanah air seperti Bandung dan Surabaya sempat beredar makanan ringan dengan desain cover Obama. Bungkusnya bergambar karikatur Obama dengan bendera putih bertuliskan ‘Snack Anti Terrorist’. Dari informasi yang dihimpun detiksurabaya.com, ada versi lainnya lagi, yaitu dengan cover bungkusan snack bergambar Obama dimana telunjuk dan jari tengah tangan kanannya membentuk simbol ‘victory’. Lalu ada tulisan ‘Peace’. Sementara tangan kiri memegang bola dunia.
Pada bagian belakang bungkusan snack Obama tersebut, ada tulisan Dep.Kes.RI.No.SP.137/13.26/91. Sementara untuk snack yang bertuliskan ‘peace’, terdapat tulisan Depkes.RI.P-IRT.137/13.26/91. Namun meski mencantumkan nama produsennya, namun tidak disebutkan alamat si produsen. Juga tidak disebutkan kode produksi dan tanggal kadaluwarsanya.
Yang mengkhawatirkan antara lain pada snack yang hanya seharga Rp 500 ini terdapat iming-iming hadiah berupa mainan plastik yang dicampurkan langsung dengan makanan tanpa dilapisi pembungkus.
Sebagai konsumen, memanglah mesti bijak mengonsumsi apa pun termasuk obama (obat dan makanan) yang masuk ke dalam tubuh kita.
Lho bukannya pemilu masih lama? Emang presidennya mau diganti ya? Tenang dulu, jangan buru-buru mengambil kesimpulan. Tulisan ini memang tidak mengulas bidang politik melainkan hendak mengingatkan hak pasien untuk memilih. Hak pilih pasien? Maksudnya?
Ada suatu kekhasan dalam transaksi jasa farmasi. Apakah itu?
Pada umumnya konsumen adalah pengguna akhir dan pengambil keputusan dalam transaksi barang dan jasa, namun motivasi pada transaksi jasa farmasi bergerak dari kondisi sakit untuk sehat, sehingga pasien cenderung tidak dalam posisi bebas untuk memilih antara membeli, tidak membeli atau beralih ke obat lain.
Ini dikarenakan adanya kesenjangan pengetahuan atas obat & penyakit sehingga terjadi transaksi asimetri informasi antara pasien dengan dokter.
Untuk mengoptimalkan hasil transaksi, diperlukan keterlibatan pihak lain, yaitu keterlibatan apoteker di apotek. Tanpa itu, sulit untuk menjamin tidak ada konflik kepentingan dalam penulisan resep pada praktek dokter dispensing.
Belum lagi sulitnya membedakan fenomena dokter dispensing dengan alasan untuk mengurangi beban biaya obat atau untuk menambah penghasilan. Pada kasus dokter dispensing, obat bisa saja tidak lebih murah karena pasien ‘dipaksa’ untuk menebus resep di apotek miliknya dengan menulis resep yang tidak terbaca.
Padahal seharusnya pasien memiliki hak untuk dapat memilih obatnya sesuai kemampuan dengan tidak mesti bergantung pada satu merek tertentu. Karena pasien pun memiliki hak pilih, yang harus dihargai. Setuju?
Seorang bapak pernah merasa tak percaya saat membeli obat di apotek saya dulu. Karena tak sampai seribu uang yang perlu ia bayarkan. Kalau dipikir-pikir dekstro dulu juga bisa disalahguna karena bisa dibeli murah sebagai obat generik yang tidak ada biaya promosi. Jadi nebus resep obat itu sebenarnya (bisa) murah, tanya apoteker di apotek tentang obat generik. Apalagi pemerintah sedang akan menggalakkan kembali penggunaan obat generik di instansi pemerintah.
Komentar